Category: Uncategorized

  • Bagian 1.1, dan Perihal untuk Dhea

    Tiada riuh yang tak sengau
    Udara di sekitar merambat tak bertuan
    Elegi dipantik, berpendar ia jadi percik api
    Puan dari seberang melanglang buana
    Menjajaki titik temu pada pesan dari masa lampau
    Tiada berkala kami tepati
    Hinggap di dahan memintal janji
    Paraunya langit melesakkan risau
    Anak-anak awan bermain terlalu riang ke sana, ke mari
    Puan berjalan dalam keadaan genting
    Satu kali kekhawatiran, dua kali sudah cukup
    Tiada kata yang boleh terbuang percuma
    Lelaki harus hidup dengan tindakannya
    Tanpa ragu
    Tanpa terkecuali
    Sebaiknya berteduh terlebih dahulu
    Selayaknya ayam
    yang merdeka dan bertahan hidup
    Temaram berkelip menjaga suasana
    Buku saku kecil terbuka perlahan
    Nona, bolehkah hamba bertanya
    Mengenai apa dan mengapa
    Dijawab boleh, tidak pun tak mengapa
    Nona tersenyum membuka asa
    Berbincang lembut ia berarak-arakan
    Puan mendermakan es krim pada sang batu
    Batu terkikis oleh es di tangan hangat
    Puan tersenyum magis melawan kesunyian agung
    Bianglala perlahan berputar, khidmat kami mendengar
    Nostalgia baru, telah tercipta
    Tiada kelak kami ingin lupa
    Meski masa telah semenjana
    Puan kembali berlayar
    Menerka pedoman berliku yang dihaturkan oleh sekotak gawai
    Mengayuh sore, sembari merentangkan dunia
    Pandangannya mengedar, mengudara, melebur
    Segelombang energi pulih diteguknya
    Bersama cerita bersampul merah yang mahsyur
    Dalam kumpulan kalimat bermakrifat,
    Wanita harus berdaya, dan berdaulat
    Tidak boleh terkekang oleh rasa sungkan apalagi adat!
    Panggil saja aku, saya, kami, mas
    Apapun itu, kami panjatkan suar di atas menara
    Wahai Puan,
    Pada dasarnya kita semua adalah pemula
    Tidak ada kebenaran yang benar-benar benar
    Tidak ada pula kesalahan yang perlu disalahkan
    Sewajarnya, selayaknya, sehidupnya, seimbangnya
    Tidak ada yang benar-benar tahu akan hari esok
    Begitulah dunia dalam rencana yang tak terduga
    Tidak ada pula yang tidak-tidak-tetapi
    Biarlah orang lain berencana, tapi puan yang memutuskan
    Anak tangga bisa dijejaki perlahan-lahan
    Dhea, tulisan ini belum selesai. Aku ingin kita menulisnya bersama.

    Aku suka kamu, aku ingin jadi pacarmu. Kalau Dhea sendiri bagaimana? Aku ingin bertumbuh bersama, dan merencanakan hal-hal baik di masa depan. Setidaknya kita bisa mencoba dulu, jika kamu mau.
    Tertanda, Adhityawarman.