Tiada riuh yang tak sengau
Udara di sekitar merambat tak bertuan
Elegi dipantik, berpendar ia jadi percik api
Puan dari seberang melanglang buana
Menjajaki titik temu pada pesan dari masa lampau
Tiada berkala kami tepati
Hinggap di dahan memintal janji
Paraunya langit melesakkan risau
Anak-anak awan bermain terlalu riang ke sana, ke mari
Puan berjalan dalam keadaan genting
Satu kali kekhawatiran, dua kali sudah cukup
Tiada kata yang boleh terbuang percuma
Lelaki harus hidup dengan tindakannya
Tanpa ragu
Tanpa terkecuali
Sebaiknya berteduh terlebih dahulu
Selayaknya ayam
yang merdeka dan bertahan hidup
Temaram berkelip menjaga suasana
Buku saku kecil terbuka perlahan
Nona, bolehkah hamba bertanya
Mengenai apa dan mengapa
Dijawab boleh, tidak pun tak mengapa
Nona tersenyum membuka asa
Berbincang lembut ia berarak-arakan
Puan mendermakan es krim pada sang batu
Batu terkikis oleh es di tangan hangat
Puan tersenyum magis melawan kesunyian agung
Bianglala perlahan berputar, khidmat kami mendengar
Nostalgia baru, telah tercipta
Tiada kelak kami ingin lupa
Meski masa telah semenjana
Puan kembali berlayar
Menerka pedoman berliku yang dihaturkan oleh sekotak gawai
Mengayuh sore, sembari merentangkan dunia
Pandangannya mengedar, mengudara, melebur
Segelombang energi pulih diteguknya
Bersama cerita bersampul merah yang mahsyur
Dalam kumpulan kalimat bermakrifat,
Wanita harus berdaya, dan berdaulat
Tidak boleh terkekang oleh rasa sungkan apalagi adat!
Panggil saja aku, saya, kami, mas
Apapun itu, kami panjatkan suar di atas menara
Wahai Puan,
Pada dasarnya kita semua adalah pemula
Tidak ada kebenaran yang benar-benar benar
Tidak ada pula kesalahan yang perlu disalahkan
Sewajarnya, selayaknya, sehidupnya, seimbangnya
Tidak ada yang benar-benar tahu akan hari esok
Begitulah dunia dalam rencana yang tak terduga
Tidak ada pula yang tidak-tidak-tetapi
Biarlah orang lain berencana, tapi puan yang memutuskan
Anak tangga bisa dijejaki perlahan-lahan
Dhea, tulisan ini belum selesai. Aku ingin kita menulisnya bersama.

Aku suka kamu, aku ingin jadi pacarmu. Kalau Dhea sendiri bagaimana? Aku ingin bertumbuh bersama, dan merencanakan hal-hal baik di masa depan. Setidaknya kita bisa mencoba dulu, jika kamu mau.
Tertanda, Adhityawarman.